Rabu, 26 Oktober 2011

Antara Sinema, Wanita dan Hantu Indonesia


Film sebagai sebuah karya seni merupakan salah satu aset budaya Indonesia. Sebagai aset budaya yang tergolong industri kreatif sudah barang tentu film harus mampu merepresentasikan Indonesia. Dalam artian yang seharusnya, mampu menjadi gambaran positif tentang negeri ini.
Untuk urusan ini kita bisa belajar dari film Hollywood. Lihatlah, betapa film-film Hollywood mampu membangun konstruksi pemahaman penontonnya akan Amerika Serikat. Lihatlah Rambo dan sekuelnya, yang mampu mematahkan persepsi awam perihal kekalahan AS di Vietnam. Jika mau mencari, banyak sekali ditemukan unsur-unsur dalam film Hollywood yang menggambarkan betapa hebatnya Amerika Serikat di mata dunia.
Kembali ke film di Indonesia, nampaknya sekarang terjadi tren penurunan kualitas film yang diproduksi. Meski masih ada beberapa film yang layak tonton dan patut diacungi jempol, namun kita tak bisa menutup mata akan banyaknya film-film yang hanya menjual sensualitas belaka. Terlebih, film dengan genre seperti itu dipadukan dengan hantu-hantu Indonesia yang bisa dibilang sedang dalam puncak popularitasnya.
Saya bukan kritikus film, nonton film juga nggak hobi-hobi amat. Saya hanya penikmat film Indonesia yang gundah, karena pilihan film Indonesia yang berkualitas menjadi amat terbatas. Penonton yang gundah karena film kita, terutama film horor hobinya menjual area terlarang kaum wanita.
Mulai dari judul kalau kita cermati, benar-benar mulai aneh-aneh. Inisiator pembuat film horor nampaknya mulai membaurkan apa yang menjadi kebiasaan manusia ke dalam sosok hantu. Dengan kata lain, mulai “memanusiakan” hantu. Contoh, Hantu Puncak Datang Bulan. Satu pertanyaan yang terlintas saat membaca judul ini adalah “berarti hantu itu nggak menopause ya?.” Dan yang tidak ketinggalan, adegan seputar paha, dada dan wanita yang pasti mampu membuat penonton lelaki tak ingin lekas beranjak dari tempat duduknya.
Film juga mulai mengadu domba hantu-hantu kita. Seperti yang pernah disinggung Raditya Dika dalam perform Stand Up-nya. Pocong versus Kuntilanak contohnya, dosa apa mereka sampai mereka harus bertarung demi manusia. Ada lagi Suster Ngesot dan Suster Keramas, nggak cukup dia ngesot dia juga keramas. Ada pula Pocong Ngesot, pocong yang ngesot adalah pocong salah pergaulan kata Raditya Dika.
Film Indonesia juga doyan sekali dengan hantu-hantu perawan. Mulai dari Tali Pocong Perawan sampai Rintihan Kuntilanak Perawan. Kedua film ini kebetulan pernah saya tonton. DP sebagai bintang film yang pertama jelas menonjolkan kemolekan tubuhnya dibanding kemampuan aktingnya. Film kedua menurut saya lebih parah, mantan istri siri Bang Haji yang jadi peran utama berakting pas-pasan. Tera Patrick yang dikenal bintang film panas pun terkesan hanya sebagai pemanis dengan nama besarnya. Ditambah lagi jalan ceritanya jelas-jelas merupakan duplikat dari Film Hollywood berjudul Jennifer’s Body yang dibintangi Megan Fox.
Satu lagi film yang memuat unsur keperawanan adalah Pacar Hantu Perawan yang baru saya lihat posternya di bioskop. Pertanyaan yang cukup menggelitik ialah apa saking susahnya nyari cewek yang masih perawan, sampai-sampai seorang pria rela pacaran sama hantu. Mungkin yang ada di pikirannya adalah “nggak apa-apa dia hantu, yang penting masih perawan.”
Ada apa dengan obsesi kita? Film yang seharusnya mampu memberi gambaran wajah Indonesia sesungguhnya malah terkooptasi selera murahan yang cukup mengusik selera penikmat film kita. Jika terus begini, sejarah mungkin saja akan berulang. Ketika dulu film kita begitu berjaya, namun harus mati suri akibat film-film bergenre horor yang juga menjual sensualitas. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar