Film
sebagai sebuah karya seni merupakan salah satu aset budaya Indonesia. Sebagai
aset budaya yang tergolong industri kreatif sudah barang tentu film harus mampu
merepresentasikan Indonesia. Dalam artian yang seharusnya, mampu menjadi gambaran
positif tentang negeri ini.
Untuk
urusan ini kita bisa belajar dari film Hollywood. Lihatlah, betapa film-film
Hollywood mampu membangun konstruksi pemahaman penontonnya akan Amerika Serikat.
Lihatlah Rambo dan sekuelnya, yang mampu mematahkan persepsi awam perihal
kekalahan AS di Vietnam. Jika mau mencari, banyak sekali ditemukan unsur-unsur
dalam film Hollywood yang menggambarkan betapa hebatnya Amerika Serikat di mata
dunia.
Kembali
ke film di Indonesia, nampaknya sekarang terjadi tren penurunan kualitas film
yang diproduksi. Meski masih ada beberapa film yang layak tonton dan patut
diacungi jempol, namun kita tak bisa menutup mata akan banyaknya film-film yang
hanya menjual sensualitas belaka. Terlebih, film dengan genre seperti itu
dipadukan dengan hantu-hantu Indonesia yang bisa dibilang sedang dalam puncak
popularitasnya.
Saya
bukan kritikus film, nonton film juga nggak
hobi-hobi amat. Saya hanya penikmat
film Indonesia yang gundah, karena pilihan film Indonesia yang berkualitas
menjadi amat terbatas. Penonton yang gundah karena film kita, terutama film
horor hobinya menjual area terlarang kaum wanita.
Mulai
dari judul kalau kita cermati, benar-benar mulai aneh-aneh. Inisiator pembuat
film horor nampaknya mulai membaurkan apa yang menjadi kebiasaan manusia ke
dalam sosok hantu. Dengan kata lain, mulai “memanusiakan” hantu. Contoh, Hantu Puncak Datang Bulan. Satu
pertanyaan yang terlintas saat membaca judul ini adalah “berarti hantu itu
nggak menopause ya?.” Dan yang tidak ketinggalan, adegan seputar paha, dada dan
wanita yang pasti mampu membuat penonton lelaki tak ingin lekas beranjak dari
tempat duduknya.
Film
juga mulai mengadu domba hantu-hantu kita. Seperti yang pernah disinggung
Raditya Dika dalam perform Stand Up-nya. Pocong
versus Kuntilanak contohnya, dosa apa mereka sampai mereka harus bertarung
demi manusia. Ada lagi Suster Ngesot dan Suster Keramas, nggak cukup dia ngesot
dia juga keramas. Ada pula Pocong Ngesot,
pocong yang ngesot adalah pocong salah pergaulan kata Raditya Dika.
Film
Indonesia juga doyan sekali dengan hantu-hantu perawan. Mulai dari Tali Pocong Perawan sampai Rintihan Kuntilanak Perawan. Kedua film
ini kebetulan pernah saya tonton. DP sebagai bintang film yang pertama jelas
menonjolkan kemolekan tubuhnya dibanding kemampuan aktingnya. Film kedua
menurut saya lebih parah, mantan istri siri Bang Haji yang jadi peran utama
berakting pas-pasan. Tera Patrick yang dikenal bintang film panas pun terkesan
hanya sebagai pemanis dengan nama besarnya. Ditambah lagi jalan ceritanya
jelas-jelas merupakan duplikat dari Film Hollywood berjudul Jennifer’s Body yang dibintangi Megan
Fox.
Satu
lagi film yang memuat unsur keperawanan adalah Pacar Hantu Perawan yang baru saya lihat posternya di bioskop.
Pertanyaan yang cukup menggelitik ialah apa saking susahnya nyari cewek yang
masih perawan, sampai-sampai seorang pria rela pacaran sama hantu. Mungkin yang
ada di pikirannya adalah “nggak apa-apa dia hantu, yang penting masih perawan.”
Ada
apa dengan obsesi kita? Film yang seharusnya mampu memberi gambaran wajah Indonesia
sesungguhnya malah terkooptasi selera murahan yang cukup mengusik selera
penikmat film kita. Jika terus begini, sejarah mungkin saja akan berulang.
Ketika dulu film kita begitu berjaya, namun harus mati suri akibat film-film
bergenre horor yang juga menjual sensualitas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar