Sebenarnya
enggan sekali aku bercerita. Kenapa? Karena menurutku, ditulispun siapa yang
baca. Tapi biarlah, siapapun yang membaca tak jadi soal. Bahkan jika hanya
dibaca olehku saja, tak akan aku bersungut memalingkan muka. Menulis itu
masalah rasa, terserah aku yang menulisnya. Ya, karena tulisan ini tak
penting-penting amat, maaf saja bagi yang tak merasa ingin membaca. Akupun
hanya ingin bercerita. Jika ada yang berkenan membaca, silahkan saja.
Namaku Adry.
Ingat pakai “Y” belakangnya! Terkadang kulontarkan ingatan itu bagi siapa yang
berkenalan denganku. Untuk apa? Untuk memperjelas saja. Nama itu pemberian
orangtua yang berarti doa. Jadi aku tak ingin orang lain salah menulis namaku,
yang jika terjadi tentu itu sungguh telah merubah namaku, meski hanya satu
huruf, bisa beda artinya bung.
Aku tak tahu
kenapa ayah dan ibuku memberi nama Adry dengan huruf “Y” dibelakang. Aku pun
tak pernah menanyakannya. Memang ini tak lazim untuk seorang bocah ingusan
seperti aku yang hanya lahir di kampung kecil di sebuah negara bernama
Indonesia. Tapi sekali lagi ini masalah selera, mungkin orangtuaku ingin aku
berbeda, jadilah mereka mengadopsi gaya penulisan nama di barat dengan memakai
huruf “Y”, bukannya huruf “I”. Bagiku sebenarnya tak jadi soal, mau Y ataupun
I. Yang penting aku bernama, dan insyaAllah memiliki arti yang baik pula.
Aku bingung mau
memulai dari mana tulisan yang sesungguhnya memang tidak penting ini. Karena
ini tulisan yang tidak penting, mungkin lebih baik aku memulai dari yang tak
penting pula. Tapi setelah dipikir, aku masih saja bingung apa sebenarnya hal
tidak penting yang ingin aku ceritakan. Kalau begitu sudahlah, kuakhiri saja.
Tapi sebelum itu, aku hanya ingin berkata, ini aku, aku adalah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar