Rabu, 14 Desember 2011

Liga Indonesia, Mau Dibawa Kemana?


Mau dibawa kemana? Pertanyaan itu nampaknya sangat tepat ditujukan untuk PSSI saat ini. Bagaimana tidak, saat ini segenap insan sepakbola Indonesia tengah berharap akan prestasi sepakbola nasional. Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana sepak terjang Timnas U-23 di ajang Sea Games belum lama ini. Kiprah garuda muda menuai pujian dari banyak pihak, kendati gagal meraih medali emas. Menyuguhkan permainan ciamik dipadu dengan kecepatan pemain-pemain muda, kita patut berharap banyak tim polesan Rahmad Darmawan itu mampu berprestasi lebih baik di tahun-tahun mendatang.
Tapi nampaknya harapan itu justru lambat laun bagai jauh panggang dari api. Timnas yang tangguh hanya bisa terbentuk lewat kompetisi yang berkualitas. Sayangnya masa depan kompetisi sepakbola profesional di Indonesia kembali menemui lorong gelap.
Ya, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)

Sabtu, 26 November 2011

Galauku Karena Skripsiku




Skripsi. Satu kata sederhana tapi begitu berat perjuangannya bagi seorang mahasiswa. Ya, bagi orang lain mungkin skripsi hanya dianggap sebagai salah satu syarat untuk lulus kuliah. Namun tidak demikian halnya bagi mahasiswa tingkat akhir. Skripsi bagaikan tembok besar China yang menghalangi kelulusannya menjadi seorang sarjana. Tak jarang ada yang membuat plesetan jadi “skripshit.”



Dari apa yang pernah saya dengar dari teman-teman, skripsi nampaknya memang menjadi momok yang cukup menakutkan bagi mahasiswa, tak terkecuali saya sendiri. Tak sedikit teman-teman yang mengalami kesulitan saat penulisan skripsi. Mulai judul yang berulang kali ditolak, dosen pembimbing yang tak sesuai harapan, kesulitan akses penelitian, hingga rasa malas yang seolah tak mau pergi.

Rabu, 23 November 2011

Kupinang Kau Dengan Gombalan


Berhubung akhir-akhir ini kayaknya lagi ngetrend yang namanya rayuan gombal. Akhirnya tergerak buat nulis sebuah goresan sederhana untuk mengulik lebih jauh sama yang namanya rayuan gombal. Kebetulan aku juga sedang mempersiapkan karir untuk masuk ke dunia pergombalan Indonesia. Lho?

Rayuan gombal kayaknya pertama kali dipopulerkan baru-baru ini oleh bintang-bintang di acara Opera Van Java. Semenjak itu, langsung deh kayaknya semua orang jadi mendadak romantis. Tiap ada orang nanya, jawabnya “kok tau?”. Ehm, ehh..anu itu.. Gelagepan deh tu yang nanya. Lagi di kampus depan ruang dosen, sama teman kuliah ditanya,

Ruang Jiwa




Hanya kehampaan yang bisa menandingimu
Dan tak cukup seribu kata menggambarkanmu
Laksana rembulan yang berkerling malu
Bayang auramu selalu melekat syahdu

Mungkin memang aku yang tak tahu
Jika kau lebih indah dari kalbu

Rabu, 26 Oktober 2011

Ini Aku


Sebenarnya enggan sekali aku bercerita. Kenapa? Karena menurutku, ditulispun siapa yang baca. Tapi biarlah, siapapun yang membaca tak jadi soal. Bahkan jika hanya dibaca olehku saja, tak akan aku bersungut memalingkan muka. Menulis itu masalah rasa, terserah aku yang menulisnya. Ya, karena tulisan ini tak penting-penting amat, maaf saja bagi yang tak merasa ingin membaca. Akupun hanya ingin bercerita. Jika ada yang berkenan membaca, silahkan saja.

Antara Sinema, Wanita dan Hantu Indonesia


Film sebagai sebuah karya seni merupakan salah satu aset budaya Indonesia. Sebagai aset budaya yang tergolong industri kreatif sudah barang tentu film harus mampu merepresentasikan Indonesia. Dalam artian yang seharusnya, mampu menjadi gambaran positif tentang negeri ini.
Untuk urusan ini kita bisa belajar dari film Hollywood. Lihatlah, betapa film-film Hollywood mampu membangun konstruksi pemahaman penontonnya akan Amerika Serikat. Lihatlah Rambo dan sekuelnya, yang mampu mematahkan persepsi awam perihal kekalahan AS di Vietnam. Jika mau mencari, banyak sekali ditemukan unsur-unsur dalam film Hollywood yang menggambarkan betapa hebatnya Amerika Serikat di mata dunia.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Negeri Seribu Pilu

Sumber: news.okezone.com

Tuhan
Ku ingin berkeluh kesah padamu
Kisah sedih bangsaku
Yang selalu dilanda pilu

Di negeriku
Berkeliaran koruptor tak tahu malu

Sejenak


Berhenti, sejenak
Dari penatnya kehidupan

Berhenti, sejenak
Dari lalu-lalang problematika

Berhenti, sejenak
Dari roda ketidakadilan

Just 3 Words


Sumber: http://gaspeb.blogspot.com
Ketika rasa telah begitu membuncah dalam kalbu
Dan saat itu, seolah getaran jiwa menjadi satu
Merayap melewati serpihan gelora yang menggebu

Kamu, telah menerangi jiwa penatku