Rabu, 14 Desember 2011

Liga Indonesia, Mau Dibawa Kemana?


Mau dibawa kemana? Pertanyaan itu nampaknya sangat tepat ditujukan untuk PSSI saat ini. Bagaimana tidak, saat ini segenap insan sepakbola Indonesia tengah berharap akan prestasi sepakbola nasional. Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana sepak terjang Timnas U-23 di ajang Sea Games belum lama ini. Kiprah garuda muda menuai pujian dari banyak pihak, kendati gagal meraih medali emas. Menyuguhkan permainan ciamik dipadu dengan kecepatan pemain-pemain muda, kita patut berharap banyak tim polesan Rahmad Darmawan itu mampu berprestasi lebih baik di tahun-tahun mendatang.
Tapi nampaknya harapan itu justru lambat laun bagai jauh panggang dari api. Timnas yang tangguh hanya bisa terbentuk lewat kompetisi yang berkualitas. Sayangnya masa depan kompetisi sepakbola profesional di Indonesia kembali menemui lorong gelap.
Ya, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)
kembali berkubang dalam jurang kekisruhan lagi. Kita dihadapkan pada persolan yang justru menjadi biang keruh pengurus PSSI pendahulu, yaitu dualisme kompetisi. Setelah dulu kompetisi resmi PSSI yaitu Indonesia Super League (ISL) mendapat tandingan dari Liga Primer Indonesia (LPI). Kali ini justru ISL menjadi kompetisi tandingan dari kompetisi yang berada di bawah naungan PSSI, yaitu Indonesia Premier League (IPL).
Beberapa klub yang tak puas dengan keputusan pengurus PSSI membelot untuk kemudian membentuk ISL di bawah kendali PT Liga Indonesia (PT LI), yang menurut PSSI mandatnya sudah dicabut untuk mengelola kompetisi. Sebagai gantinya, PSSI menunjuk PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS) sebagai pengelola kompetisi IPL. Sementara PT LI yang membidani ISL merasa sah dan legal karena hanya menjalankan mandat kongres Bali.

Tak jelas
Dualisme kompetisi yang terjadi saat ini hampir mirip dengan apa yang terjadi saat era Nurdin Halid. Bahkan bisa dikatakan ada upaya balas dendan dari apa yang dilakukan kedua kubu yang berseberangan. Hal ini pun memunculkan sejumlah pertanyaan dan juga kekhawatiran. Bagaimana sepakbola Indonesia bisa maju jika terus terjebak dalam konflik internal yang berkepanjangan. Hanya menimbulkan ketidakjelasan bagi banyak pihak, terutama pemain.
Setiap kubu, baik dari ISL maupun IPL dan PSSI saling klaim kebenaran. Masing-masing mengatakan bahwa kompetisinya yang paling profesional dan berkualitas. Dalam berbagai pemberitaan media kedua kubuh saling tuduh, bahkan ancam mengancam. Situasi ini tentunya menimbulkan iklim yang tak sehat dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Bagaimana mungkin olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi asas my game is fair play malah terkesan saling menunjukkan sikap yang tidak sportif dan jauh dari sikap profesional.
Patut dipertanyakan bagaimana kelanjutan kompetisi di tanah air ini nantinya. Saat energi kita habis terkuras mengikuti kisruh di era Nurdin, kembali kita harus menyaksikan kisruh jilid dua yang tak kalah pelik. Djohar Arifin yang memegang tampuk pimpinan PSSI nampaknya belum cukup mampu meredam berbagai gejolak di kalangan pengurus dan Exco. Di lain pihak, beberapa pengurus dan anggota Exco yang mendukung ISL pun belum menunjukkan sikap kedewasaan dalam berorganisasi.
Sebagai pecinta sepakbola tentunya kita berharap konflik ini akan segera berakhir. Menjadi hal yang muskil ketika kompetisi jauh dari kata berkualitas sembari berharap terbentuk timnas yang sanggup bersaing di level Asia bahkan dunia. Beberapa pakar dan pengamat ada yang mengatakan jika level timnas kita sebenarnya sudah di tingkat Asia. Bersaing dengan Korea, Iran, Jepang dan Australia seharusnya menjadi hal biasa, bukan lagi melawan negara-negara di Asia Tenggara. Namun apa mau dikata, akibat pengelolaan sepakbola yang bisa dibilang “salah urus”, timnas kita masih tak beranjak dari level yang sekarang.

Upayakan Rekonsiliasi
Sudah saatnya kedua belah pihak yang saling bertentangan tak lagi bersikeras mempertahankan kepentingan dan ego masing-masing. PSSI harus tegas dan menunjukkan kecakapannya dalam mengelola kompetisi. Sementara pihak lain yang menentang PSSI harus mau berkompromi dan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan. Tidak lantas harus saling tanding menandingi. Ada beberapa upaya menuju rekonsiliasi yang semestinya bisa dilakukan.
Pertama, mempertemukan kembali beberapa pihak yang berseteru untuk kemudian mencari jalan keluar terbaik. Demi kepentingan sepakbola nasional, hal ini mutlak dilakukan mengingat kedua kompetisi sudah berjalan. Tak ada alasan untuk menolak melakukan pertemuan.
Kedua, PSSI harus menunjukkan ketegasan dan kewibawaannya dengan tidak mengeluarkan keputusan yang sepihak dan kontroversial. Beberapa kalangan menilai PSSI saat ini kerap mengeluarkan keputusan tanpa mendapat persetujuan dari seluruh anggota Exco. Belum lagi keputusan untuk menggulirkan kompetisi dengan 24 klub yang menuai banyak kritikan. PR yang harus dikerjakan adalah segera selesaikan persoalan dualisme kompetisi sebelum terlambat.
Ketiga, semua pihak yang terlibat dalam kompetisi baik IPL maupun ISL harus menyadari bahwa kompetisi merupakan proses dalam pembinaan sepakbola menuju kesuksesan. Maka perlu adanya rekonsiliasi kedua pihak untuk membuat format kompetisi yang tepat, profesional dan berkualitas. Perlu diingat, dualisme kompetisi tak akan menghasilkan perbaikan. Sebaliknya justru akan memperburuk kondisi persepakbolaan nasional. Yang akhirnya akan berujung pada Tim Nasional yang minim prestasi. Tak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan.
Kedepannya, PSSI harus visioner dengan merumuskan konsep persepakbolaan nasional di masa depan. Tak melulu hanya memikirkan kepentingan jangka pendek. Mesti ada pemikiran untuk menetapkan sebuah visi yang merupakan perwujudan dari harapan dan impian seluruh pecinta sepakbola nasional dan masyarakat Indonesia. Tidak selalu berkutat dengan masalah yang menerpa internal organisasi.
Terakhir, tentunya kita tak pernah berharap PSSI kembali masuk dalam lingkaran kekisruhan yang baru. Sebagai pecinta sepakbola, masyarakat hanya ingin melihat satu kompetisi yang berjalan baik dan berkualitas. Tanpa adanya intrik apalagi kepentingan politik yang turut bermain di dalamnya. Melihat tim nasional Indonesia bermain di Piala Dunia adalah impian kita bersama. Namun kesampingkan dulu mimpi itu jika sepakbola kita masih seperti sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar