Selasa, 28 Februari 2012

Sepenggal Kisah Penjual Gorengan


Tangan tua itu begitu cekatan di atas wajan penggorengan. Panasnya minyak goreng tak dirasa, sesekali peluh mengalir cukup deras di dahinya. Bermacam gorengan dibuatnya untuk mahasiswa yang mampir di warungnya. Hilir mudik kendaraan yang berlalu di depan warungnya tak menghalanginya untuk tetap berjualan.
Pak Hadi, begitu pria setengah baya itu biasa disapa, adalah seorang penjual gorengan yang biasa mangkal di samping kampus FISIP Unsoed, Purwokerto. Setiap hari ia selalu berjualan bermacam gorengan di tempat tersebut. Bermacam makanan hingga minuman ia jual. Mulai dari mendoan, bakwan, pisang goreng, dage, molen, lontong, rokok, dan bermacam minuman. Menurut beberapa mahasiswa, gorengan di warung pak hadi enak dan murah harganya. Sehingga, hampir tiap hari selalu ramai dikunjungi pembeli.

Rutinitas pria asal Kebumen ini berbeda dibanding orang biasa. Ketika orang-orang masih terlelap di tempat tidurnya, ia sudah sibuk menyiapkan apa-apa saja yang diperlukan untuk berjualan gorengan. Biasanya ia dibantu oleh sang istri tercinta. Sejak sebelum subuh, ia harus mulai mengambil titipan jualan di tempat orang lain, karena tak semua yang dijualnya adalah miliknya sendiri. Sementara istrinya bertugas menyiapakan berbagai macam adonan untuk gorengan yang akan dijual.
Lelaki beranak dua ini biasa dibantu berjualan oleh keponakannya. Sehingga kerjaannya tak terlalu berat karena harus bekerja sendirian. Namun keponakannya tak bisa tiap hari membantunya. Selain punya pekerjaan sendiri, Pak Hadi juga tak mau terlalu sering merepotkan keponakannya itu. Sehingga, tak jarang ia harus berjualan sendirian dari pagi sampai sore hari.
“ Biasanya saya berjualan dua orang, tapi keponakan saya sifatnya hanya membantu saja, jadi tak bisa tiap hari membantu ”, katanya. Sekarang keponakannya hanya membantu masang tenda kalau pagi-pagi. Sementara untuk bongkar jika sudah selesai iala lakukan sendiri.
Ketika ditanya berapa penghasilan hariannya, ia mengaku tidak pernah menghitungnya. Jadi tidak pernah tahu berapa persisnya ia mendapat keuntungan setiap harinya. Yang ia tahu hanya jika sudah dihitung bulanan. “ Kalau harian saya tidak tahu berapa persisnya, tapi kalau bulanan sekitar satu setengah juta ”, ujarnya.
1,5 Juta itu menurutnya baru penghasilan kotornya. Jika dihitung secara bersih tentu saja berkurang banyak dari jumlah tersebut. Penghasilan sebesar itu menurutnya masih belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sehingga tak jarang ia harus pinjam sana-sini ke tetangga untuk menutupi kekurangan.
Asal Mula
Awal mulanya sebenarnya tidak ada niat untuk berjualan gorengan. Sebelum menjadi seorang penjualan gorengan, ia telah melakoni berbagai macam jenis pekerjaan. Mulai dari supir hingga tukang batu dijalaninya demi kelangsungan hidupnya. Sejak lulus SMA ia sudah berkelana ke Jakarta. Mencari peruntungan dengan merantau ke Ibukota sudah menjadi tradisi bagi pemuda desa sepertinya.
Menjadi sopir merupakan pekerjaan pertamanya saat di Jakarta. Pekerjaan itu dilakoninya selama beberapa bulan. Namun karena rutinitas kerja yang terlalu melelahkan ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu. “ Terlalu beresiko kalau harus jadi sopir, pergi malam pulang pagi, terus pagi berangkat lagi, ya cape saya ”, ujarnya. Apalagi penghasilannya hanya 200 ribu perbulan. Tentu saja tak sebanding dengan resiko yang harus diterimanya.
Setelah menikah dengan istrinya, ia mulai menetap tinggal di Purwokerto. Karena istrinya orang asli purwokerto maka ia harus mengikuti tempat tinggal istrinya. Setelah menikah banyak pekerjaan ia lakoni juga. Menjadi tukang batu merupakan pilihan pertamanya, walaupun bukan pekerjaan tetap, tapi lumayan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
Karena kebutuhan yang semakin bertambah sementara harga barang-barang kebutuhan pokok semakin mencekik, Pak Hadi berhenti dari pekerjaan sebagai tukang batu. Dirasakannya, bayaran sebagai tukang batu tak lagi mampu menukupi kebutuhan rumah tangganya. Hanya 4 bulan ia menjadi tukang batu.
Di saat itulah ia mulai coba-coba menekuni pekerjaan sebagai penjual gorengan. Karena dirasa cukup menguntungkan dan bisa sebagai sumber penghidupan, akhirnya sampai sekarang ia tetap bekerja sebagai penjual gorengan. “ini inisiatif saya sendiri, mungkin karena sudah pengalaman di Jakarta.
Sekarang, kalau misal ada tawaran untuk menjadi sopir lagi, ia kan menolaknya. Karena seperti yang telah ia katakan, menjadi sopir resikonya nyawa. Lebih baik jadi penjual gorengan saja. “ Menjadi sopir resikonya nyawa tapi hasilnya tidak seberapa, lebih baik kaya gini saja, cuma duduk sambil nggoreng, resikonya paling kompor mbleduk ”, katanya sambil tertawa.
Modal awal ia dapatkan dari pinjaman kredit dari sebuah bank. Kredit sebesar 5 juta ia pakai 2 juta sebagai modal usaha. Sementara sisanya ia gunakan untuk keperluan lainnya. Namun saat awal-awal berjualan cukup merasa kesulitan karena tiap bulan harus mengeluarkan uang untuk cicilan ke bank sebesar 310 ribu selama dua tahun. Barulah setelah lunas, ia mulai tidak merasa kesulitan lagi dalam menjalankan usahanya.
Saat awal Pak hadi berjualan di jalan kampus, saat itu menurutnya belum banyak PKL yang berjualan disitu. Hanya ada dua orang, yaitu dia sendiri dan penjual koran di depan teknik. Oleh karena itu dulu masih sangat sepi. Baru ketika era presiden SBy, sekitar tahun 2004 mulai banyak PKL yang ikut berjualan di jalan kampus. Tahun 2005 meningkat pesat, hingga hampir sepanjang jalan kampus dipenuhi oleh PKL.
Pak Hadi pernah punya keinginan untuk memilii tempat yang permanen. Namun sampai saat ini belum terlaksana. Jika bisa, ia ingin berjualan di dalam kampus Unsoed, paling tidak di dalam kantin. Alasannya, agar tidak perlu repot-repot lagi bongkar pasang tenda. Namun lagi-lagi terhalang masalah dana. Menurutnya, paling tidak untuk mengontrak sebuah tempat untuk berjualan, ia harus merogoh kocek cukup dalam, paling tidak sekitar 5 juta. Jika ada yang memberi gratis, tentu akan sangat berterima kasih. Tapi harapan tinggalah harapan. Jaman sekarang, mana ada yang mau memberi kontarkan gratis.
Satu lagi keinginnanya ialah membuka cabang lagi di lain tempat. Beberapa waktu lalu sempat terbersit niatan itu. Namun rencana ini juga tak sampai terlaksana. Masalah modal pula yang manjadi kendala. Jika benar-benar membuka warung lagi, harus menyediakan gerobag dan tempat lagi. Apalagi harga gerobag sekarang sudah sangat mahal, satu gerobagnya sekitar 1,5 juta. Itulah kenapa keinginan ini uga tak bisa terlaksana. Kecuali ada orang yang berbaik hati memberi pinjaman modal atau gerobag bekas kepadanya, mungkin dalam beberapa waktu ke depan, benar-benar akan direalisasikannya rencana itu. Jika iya ia ingin membuka di daerah kampus eksak di Karangwangkal. Namun bagi pedagang kecil sepertinya, tentu saja sangat sulit untuk mewujudkannya.
Suka duka selama menjadi penjual gorengan tentu saja ada. Namun ia mengakui tidak pernah sampai diganggu atau dipalak oleh preman. Kendalanya bersifat musiman, artinya kadang-kadang kalau sepi pembeli ya sepi sekali. “ Kalau lagi sepi ya sepi sekali mas, kalo lagi rame ya rame ”. Pernah suatu ketika dagangannya masih tersisa banyak karena saking sepinya tak ada pembeli. Tapi tak jarang pula dagangannya habis tak tersisa. Mahasiswa, karyawan, dan orang umum yang berlalu lalang di jalan menjadi konsumen utamanya. Namun yang paling banyak membeli menurutnya mahasiswa dan karyawan.
Selama berjualan, tak jarang ia meliburkan diri tidak berjualan. Penyebabnya, karena ada beberapa halangan seperti hujan, ada keperluan keluarga, dan lain-lain. Karena ia sendiri yang mengatur pola kerjanya, terserah kapan libur dan kapan bekerjanya. Katanya, “ angger ana halangan ya ora dodol, karepe dewek prei apa orane ( kalau ada halangan ya tidak jualan, terserah sendiri libur atau tidaknya ) “, dengan logat banyumasan yang kental.
Tentang Perjaka
Perjaka yang dimaksud disini bukanlah perjaka dalam arti sebenarnya. Tapi perjaka disini adalah singkatan dari Perseduluran Jalan Kampus. Perjaka merupakan sebuah paguyuban pedangan kaki lima di sepanjang jalan kampus di Unsoed. Pak Hadi termasuk salah satu anggotanya. Dituturkannya, ia begabung dengan Perjaka sejak tahun 2007.
Saat awal ia berjualan di Jalan Kampus, diakuinya belum ada paguyuban semacam perjaka itu. Paguyuban seperti itu baru mulai ada sejak tahun 2007. Dibentuk dengan tujuan agar para PKL yang biasa mangkal di jalan kampus lebih terorganisir. Disamping itu juga untuk mencegah terjadinya persaingan tidak sehat diantara para pedagang kaki lima. Karena pada dasarnya semua pedagang tujuannya sama-sama mencari nafkah, maka harus saling menghormati antara satu dan lainnya.
Untuk itulah dibentuk sebuah paguyuban yang bisa mengakomodir semua kepentingan pedagang. Disamping juga sebagai sebuah wadah untuk bersilaturahim serta berorganisasi. Sekretariat Perjaka sendiri berada di jalan cendrawasih.
Pak Hadi menuturkan, banyak kegiatan dilakukan dalam paguyuban itu. Salah satunya ialah arisan. Arisan dilaksanakan setiap bulan dengan iuran sebesar Rp 5.000. Selain arisan ditarik juga iuran bulanan untuk mengisi kas paguyuban sebesar Rp 5.000 pula. Uang itu nantinya digunakan untuk keperluan paguyuban.
Dalam pertemuan yang dilakukan setiap bulannya, ada pula agenda lain selain mengadakan arisan. Yaitu membahas permasalahan yang terjadi di paguyuban atau lingkungan jalan kampus untuk kemudian diselesaikan secara musyawarah. Dengan demikian, solusi yang diambil bisa memuaskan semua pihak.
Akhir-akhir ini masalah yang berkembang adalah masalah masuknya PKL-PKL baru yang tidak masuk sebagai anggota paguyuban. Semakin maraknya jumlah pedagang membuat sulit pengorganisasian. Apalagi PKL baru tersebut ingin masuk menjadi anggota paguyuban. Namun jumlah pedagang yang sudah terlalu banyak membuat paguyuban tidak bisa menerima lagi anggota baru.
Itulah yang menjadi pangkal permasalahan sebenarnya. Disatu sisi PKL ingin bergabung dalam paguyuban agar tidak di cap “ilegal”. Sementara disisi lain, paguyuban enggan menerima anggota baru karena jalan kampus sudah terlalu banyak pedagangnya, dikhawatirkan akan semakin sulit diorganisir dan berpotensi menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Karenanya, sebisa mungkin dihindari penambahan anggota baru.
Tak jarang ada PKl yang “ngeyel” tetap berjualan di jalan kampus walaupun sudah ditegur oleh pengurus paguyuban. Beberapa pedagang berkilah kalau tak ada tempat lain untuk berjualan. Jika ada yang seperti itu, biasanya kalau sudah ditegur akan didatangi oleh ketua paguyuban.” angger ana sing ngeyel biasane ditekani nang ketuane mas ( kalau ada yang ngeyel biasanya didatangi sama ketua paguyubannya mas )“, kata Pak Hadi.
Sebagai solusi agar tidak ada yang merasa dirugikan biasanya PKL baru tersebut tetap diijinkan berjualan tapi dengan syarat. Syaratnya adalah membayar semacam uang pangkal sebesar Rp 300.000. Dengan uang itu pedagang baru bisa tetap berjualan di Jalan kampus selama tiga bulan. Jika sudah tiga bulan, maka harus membayar lagi jika ingin berjualan tiga bulan berikutnya.
Masalah lain adalah adanya banyak pedangan yang barang dagangannya sama. Menurut Pak Hadi jika ada penjual gorengan lagi, jaraknya paling tidak harus agak jauh dari tempatnya berjualan. Namun tak jarang ada yang melanggarnya, bahkan disekitar lapangan grendeng terkadang ada penjual yang barang dagangannya sama, jualannya saling berjejeran.
Paguyuban Perjaka sudah berjalan selama kurang lebih dua tahun. Diharapkan dengan adanya paguyuban yang mengorganisir para pedagang kaki lima, maka kepentingan para pedagang akan lebih terakomodir dan tidak ada yang namanya ribut-ribut karena saling berebut konsumen. Sebagai salah seorang anggota paguyuban, ia sadar bahwa harus tetap menghormati dan menghargai pedagang kaki lima lainnya.
Kesulitan Ekonomi
Semakin mahalnya berbagai macam kebuthan pokok turut pula dirasakan oleh Pak Hadi sebagai pelaku usaha mikro kecil menengah. Walaupun tak sepenuhnya berdampak langsung, namun ia mengaku harus bekerja ekstra keras jika ingin memperoleh keuntungan lebih dalam berjualan. Apalagi biaya pendidikan juga semakin mahal.
Dua anaknya yang kini duduk di bangku Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak makin hari makan lama makin banyak ia harus mengeluarkan uang untuk membiayainya. Namun demi pendidikan anak-anaknya ia rela mengeluarkan uang banyak asalkan anaknya bisa memperoleh pendidikan sebagaimana mestinya.
Diakuinya, biaya masuk anaknya yang TK saja sudah mencapai hampir satu juta rupiah. Satu juta itu sudah termasuk seragam serta sumbangan berbagai macam kegiatan seperti drumband dan kesenian. Belum lagi anaknya yang sudah SD, ditambah les computer, makin mahal lah biaya yang harus dikeluarkan.
Seringkali ia mengalami kesulitan untuk membiayai kedua anaknya itu sekaligus. Terutama jika menjelang akhir semester atau awal ajaran baru, biasanya harus mengeluarkan uang cukup banyak. Tak jarang anaknya telat membayar SPP karena belum ada uang untuk membayarnya. Jiia sudah begitu, biasanya istrinya yang pergi kesekolah untuk menemui guru.
Ironisnya, walaupun anaknya termasuk dari keluarga tidak mampu, tak pernah sekalipun mendapat bantuan atau beasiswa. Padahal menurutnya, anaknya sangat pantas menerima beasiswa. Keringanan biaya SPP juga tak pernah diterima, padahal sudah pernah meminta. Untuk itulah ia berharap agar pihak sekolah berbaik hati memberi keringanan biaya pendidikan pada anaknya.
Sejak harga BBM naik, beliau merasa makin susah mencari nafkah. Karena apa-apa ikut-ikutan mahal. Ia juga semakin susah memperoleh keuntungan. Harga bahan-bahan jualannya juga turut melambung tinggi seperti pisang, minyak goreng, dan beras. Untung saja saat ini harga BBM sudah mulai normal kembali.
Yang paling dirasakan mahalnya ialah harga minyak tanah. Karena dulu ia menggunakan minyak sebagai bahan bakar utama. Harganya yang mahal dan semakin susahnya minyak tanah ditemukan menjadi masalah besar baginya. Karena tanpa minyak tanah ia tak bisa berjualan.
Untung saja setelah itu ada program konversi minyak tanah ke gas yang dibagikan secara gratis oleh pemerintah. Sebagai pelaku usaha, pak Hadi tentu saja menerimanya. Namun ketika dicoba di gerobaknya, ukuran kompor tidak muat sehingga terpaksa dianggurkannya. Baru beberapa bulan ini ia membeli sendiri kompor gas yang ukuranya sesuai dengan gerobaknya.
Berbagai kesulitan yang dihadapi oleh seorang pedagang kecil seperti Pak hadi nampaknya perlu ditanggapi serius oleh pemerintah. Meski begitu Pak Hadi tak pernah putus asa menghadapi semua itu. Menurutnya, dalam hidup harus terus berusaha dan tidak boleh menghindari kesulitan, tapi harus menghadapinya.
              Di luar sana masih banyak Pak Hadi Pak Hadi lainnya yang juga merasakan kesulitan yang sama. Disaat kita nampaknya lebih suka berfoya-foya, masih ada saudara kita yang menderita. Dari mereka, tampaknya kita bisa belajar untuk apa sebenarnya kita hidup. Peduli, saling menolong, kerja keras, dan usaha tanpa putus asa jadi PeEr bagi kita yang nampaknya selalu “menutup mata”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar