Tangan tua itu
begitu cekatan di atas wajan penggorengan. Panasnya minyak goreng tak dirasa,
sesekali peluh mengalir cukup deras di dahinya. Bermacam gorengan dibuatnya
untuk mahasiswa yang mampir di warungnya. Hilir mudik kendaraan yang berlalu di
depan warungnya tak menghalanginya untuk tetap berjualan.
Pak Hadi, begitu
pria setengah baya itu biasa disapa, adalah seorang penjual gorengan yang biasa
mangkal di samping kampus FISIP Unsoed, Purwokerto. Setiap hari ia selalu berjualan
bermacam gorengan di tempat tersebut. Bermacam makanan hingga minuman ia jual.
Mulai dari mendoan, bakwan, pisang goreng, dage, molen, lontong, rokok, dan
bermacam minuman. Menurut beberapa mahasiswa, gorengan di warung pak hadi enak
dan murah harganya. Sehingga, hampir tiap hari selalu ramai dikunjungi pembeli.
Rutinitas pria
asal Kebumen ini berbeda dibanding orang biasa. Ketika orang-orang masih
terlelap di tempat tidurnya, ia sudah sibuk menyiapkan apa-apa saja yang
diperlukan untuk berjualan gorengan. Biasanya ia dibantu oleh sang istri
tercinta. Sejak sebelum subuh, ia harus mulai mengambil titipan jualan di
tempat orang lain, karena tak semua yang dijualnya adalah miliknya sendiri.
Sementara istrinya bertugas menyiapakan berbagai macam adonan untuk gorengan
yang akan dijual.
Lelaki beranak
dua ini biasa dibantu berjualan oleh keponakannya. Sehingga kerjaannya tak
terlalu berat karena harus bekerja sendirian. Namun keponakannya tak bisa tiap
hari membantunya. Selain punya pekerjaan sendiri, Pak Hadi juga tak mau terlalu
sering merepotkan keponakannya itu. Sehingga, tak jarang ia harus berjualan
sendirian dari pagi sampai sore hari.
“ Biasanya saya
berjualan dua orang, tapi keponakan saya sifatnya hanya membantu saja, jadi tak
bisa tiap hari membantu ”, katanya. Sekarang keponakannya hanya membantu masang
tenda kalau pagi-pagi. Sementara untuk bongkar jika sudah selesai iala lakukan
sendiri.
Ketika ditanya
berapa penghasilan hariannya, ia mengaku tidak pernah menghitungnya. Jadi tidak
pernah tahu berapa persisnya ia mendapat keuntungan setiap harinya. Yang ia
tahu hanya jika sudah dihitung bulanan. “ Kalau harian saya tidak tahu berapa
persisnya, tapi kalau bulanan sekitar satu setengah juta ”, ujarnya.
1,5 Juta itu
menurutnya baru penghasilan kotornya. Jika dihitung secara bersih tentu saja
berkurang banyak dari jumlah tersebut. Penghasilan sebesar itu menurutnya masih
belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sehingga tak jarang ia harus pinjam
sana-sini ke tetangga untuk menutupi kekurangan.
Asal
Mula
Awal mulanya
sebenarnya tidak ada niat untuk berjualan gorengan. Sebelum menjadi seorang
penjualan gorengan, ia telah melakoni berbagai macam jenis pekerjaan. Mulai
dari supir hingga tukang batu dijalaninya demi kelangsungan hidupnya. Sejak
lulus SMA ia sudah berkelana ke Jakarta. Mencari peruntungan dengan merantau ke
Ibukota sudah menjadi tradisi bagi pemuda desa sepertinya.
Menjadi sopir merupakan
pekerjaan pertamanya saat di Jakarta. Pekerjaan itu dilakoninya selama beberapa
bulan. Namun karena rutinitas kerja yang terlalu melelahkan ia memutuskan untuk
berhenti dari pekerjaan itu. “ Terlalu beresiko kalau harus jadi sopir, pergi
malam pulang pagi, terus pagi berangkat lagi, ya cape saya ”, ujarnya. Apalagi
penghasilannya hanya 200 ribu perbulan. Tentu saja tak sebanding dengan resiko
yang harus diterimanya.
Setelah menikah
dengan istrinya, ia mulai menetap tinggal di Purwokerto. Karena istrinya orang
asli purwokerto maka ia harus mengikuti tempat tinggal istrinya. Setelah
menikah banyak pekerjaan ia lakoni juga. Menjadi tukang batu merupakan pilihan
pertamanya, walaupun bukan pekerjaan tetap, tapi lumayan untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangganya.
Karena kebutuhan
yang semakin bertambah sementara harga barang-barang kebutuhan pokok semakin
mencekik, Pak Hadi berhenti dari pekerjaan sebagai tukang batu. Dirasakannya,
bayaran sebagai tukang batu tak lagi mampu menukupi kebutuhan rumah tangganya.
Hanya 4 bulan ia menjadi tukang batu.
Di saat itulah
ia mulai coba-coba menekuni pekerjaan sebagai penjual gorengan. Karena dirasa
cukup menguntungkan dan bisa sebagai sumber penghidupan, akhirnya sampai
sekarang ia tetap bekerja sebagai penjual gorengan. “ini inisiatif saya
sendiri, mungkin karena sudah pengalaman di Jakarta.
Sekarang, kalau
misal ada tawaran untuk menjadi sopir lagi, ia kan menolaknya. Karena seperti
yang telah ia katakan, menjadi sopir resikonya nyawa. Lebih baik jadi penjual
gorengan saja. “ Menjadi sopir resikonya nyawa tapi hasilnya tidak seberapa,
lebih baik kaya gini saja, cuma duduk sambil nggoreng, resikonya paling kompor mbleduk ”, katanya sambil tertawa.
Modal awal ia
dapatkan dari pinjaman kredit dari sebuah bank. Kredit sebesar 5 juta ia pakai
2 juta sebagai modal usaha. Sementara sisanya ia gunakan untuk keperluan
lainnya. Namun saat awal-awal berjualan cukup merasa kesulitan karena tiap
bulan harus mengeluarkan uang untuk cicilan ke bank sebesar 310 ribu selama dua
tahun. Barulah setelah lunas, ia mulai tidak merasa kesulitan lagi dalam
menjalankan usahanya.
Saat awal Pak
hadi berjualan di jalan kampus, saat itu menurutnya belum banyak PKL yang berjualan disitu. Hanya ada dua orang, yaitu dia
sendiri dan penjual koran di depan teknik. Oleh karena itu dulu masih sangat
sepi. Baru ketika era presiden SBy, sekitar tahun 2004 mulai banyak PKL yang
ikut berjualan di jalan kampus. Tahun 2005 meningkat pesat, hingga hampir
sepanjang jalan kampus dipenuhi oleh PKL.
Pak Hadi pernah
punya keinginan untuk memilii tempat yang permanen. Namun sampai saat ini belum
terlaksana. Jika bisa, ia ingin berjualan di dalam kampus Unsoed, paling tidak
di dalam kantin. Alasannya, agar tidak perlu repot-repot lagi bongkar pasang
tenda. Namun lagi-lagi terhalang masalah dana. Menurutnya, paling tidak untuk
mengontrak sebuah tempat untuk berjualan, ia harus merogoh kocek cukup dalam,
paling tidak sekitar 5 juta. Jika ada yang memberi gratis, tentu akan sangat
berterima kasih. Tapi harapan tinggalah harapan. Jaman sekarang, mana ada yang
mau memberi kontarkan gratis.
Satu lagi
keinginnanya ialah membuka cabang lagi di lain tempat. Beberapa waktu lalu
sempat terbersit niatan itu. Namun rencana ini juga tak sampai terlaksana.
Masalah modal pula yang manjadi kendala. Jika benar-benar membuka warung lagi,
harus menyediakan gerobag dan tempat lagi. Apalagi harga gerobag sekarang sudah
sangat mahal, satu gerobagnya sekitar 1,5 juta. Itulah kenapa keinginan ini uga
tak bisa terlaksana. Kecuali ada orang yang berbaik hati memberi pinjaman modal
atau gerobag bekas kepadanya, mungkin dalam beberapa waktu ke depan, benar-benar
akan direalisasikannya rencana itu. Jika iya ia ingin membuka di daerah kampus
eksak di Karangwangkal. Namun bagi pedagang kecil sepertinya, tentu saja sangat
sulit untuk mewujudkannya.
Suka duka selama
menjadi penjual gorengan tentu saja ada. Namun ia mengakui tidak pernah sampai
diganggu atau dipalak oleh preman. Kendalanya bersifat musiman, artinya
kadang-kadang kalau sepi pembeli ya sepi sekali. “ Kalau lagi sepi ya sepi
sekali mas, kalo lagi rame ya rame ”. Pernah suatu ketika dagangannya masih
tersisa banyak karena saking sepinya tak ada pembeli. Tapi tak jarang pula
dagangannya habis tak tersisa. Mahasiswa, karyawan, dan orang umum yang berlalu
lalang di jalan menjadi konsumen utamanya. Namun yang paling banyak membeli
menurutnya mahasiswa dan karyawan.
Selama
berjualan, tak jarang ia meliburkan diri tidak berjualan. Penyebabnya, karena
ada beberapa halangan seperti hujan, ada keperluan keluarga, dan lain-lain.
Karena ia sendiri yang mengatur pola kerjanya, terserah kapan libur dan kapan
bekerjanya. Katanya, “ angger ana
halangan ya ora dodol, karepe dewek prei apa orane ( kalau ada halangan ya
tidak jualan, terserah sendiri libur atau tidaknya ) “, dengan logat banyumasan yang kental.
Tentang
Perjaka
Perjaka yang
dimaksud disini bukanlah perjaka dalam arti sebenarnya. Tapi perjaka disini
adalah singkatan dari Perseduluran Jalan Kampus. Perjaka merupakan sebuah
paguyuban pedangan kaki lima di sepanjang jalan kampus di Unsoed. Pak Hadi
termasuk salah satu anggotanya. Dituturkannya, ia begabung dengan Perjaka sejak
tahun 2007.
Saat awal ia
berjualan di Jalan Kampus, diakuinya belum ada paguyuban semacam perjaka itu. Paguyuban
seperti itu baru mulai ada sejak tahun 2007. Dibentuk dengan tujuan agar para
PKL yang biasa mangkal di jalan kampus lebih terorganisir. Disamping itu juga
untuk mencegah terjadinya persaingan tidak sehat diantara para pedagang kaki
lima. Karena pada dasarnya semua pedagang tujuannya sama-sama mencari nafkah,
maka harus saling menghormati antara satu dan lainnya.
Untuk itulah
dibentuk sebuah paguyuban yang bisa mengakomodir semua kepentingan pedagang.
Disamping juga sebagai sebuah wadah untuk bersilaturahim serta berorganisasi.
Sekretariat Perjaka sendiri berada di jalan cendrawasih.
Pak Hadi
menuturkan, banyak kegiatan dilakukan dalam paguyuban itu. Salah satunya ialah
arisan. Arisan dilaksanakan setiap bulan dengan iuran sebesar Rp 5.000. Selain
arisan ditarik juga iuran bulanan untuk mengisi kas paguyuban sebesar Rp 5.000
pula. Uang itu nantinya digunakan untuk keperluan paguyuban.
Dalam pertemuan
yang dilakukan setiap bulannya, ada pula agenda lain selain mengadakan arisan.
Yaitu membahas permasalahan yang terjadi di paguyuban atau lingkungan jalan
kampus untuk kemudian diselesaikan secara musyawarah. Dengan demikian, solusi
yang diambil bisa memuaskan semua pihak.
Akhir-akhir ini
masalah yang berkembang adalah masalah masuknya PKL-PKL baru yang tidak masuk
sebagai anggota paguyuban. Semakin maraknya jumlah pedagang membuat sulit
pengorganisasian. Apalagi PKL baru tersebut ingin masuk menjadi anggota
paguyuban. Namun jumlah pedagang yang sudah terlalu banyak membuat paguyuban
tidak bisa menerima lagi anggota baru.
Itulah yang
menjadi pangkal permasalahan sebenarnya. Disatu sisi PKL ingin bergabung dalam
paguyuban agar tidak di cap “ilegal”. Sementara disisi lain, paguyuban enggan
menerima anggota baru karena jalan kampus sudah terlalu banyak pedagangnya,
dikhawatirkan akan semakin sulit diorganisir dan berpotensi menimbulkan persaingan
yang tidak sehat. Karenanya, sebisa mungkin dihindari penambahan anggota baru.
Tak jarang ada
PKl yang “ngeyel” tetap berjualan di
jalan kampus walaupun sudah ditegur oleh pengurus paguyuban. Beberapa pedagang berkilah
kalau tak ada tempat lain untuk berjualan. Jika ada yang seperti itu, biasanya
kalau sudah ditegur akan didatangi oleh ketua paguyuban.” angger ana sing ngeyel biasane ditekani nang ketuane mas ( kalau
ada yang ngeyel biasanya didatangi sama ketua paguyubannya mas )“, kata Pak
Hadi.
Sebagai solusi
agar tidak ada yang merasa dirugikan biasanya PKL baru tersebut tetap diijinkan
berjualan tapi dengan syarat. Syaratnya adalah membayar semacam uang pangkal
sebesar Rp 300.000. Dengan uang itu pedagang baru bisa tetap berjualan di Jalan
kampus selama tiga bulan. Jika sudah tiga bulan, maka harus membayar lagi jika
ingin berjualan tiga bulan berikutnya.
Masalah lain
adalah adanya banyak pedangan yang barang dagangannya sama. Menurut Pak Hadi
jika ada penjual gorengan lagi, jaraknya paling tidak harus agak jauh dari
tempatnya berjualan. Namun tak jarang ada yang melanggarnya, bahkan disekitar
lapangan grendeng terkadang ada penjual yang barang dagangannya sama, jualannya
saling berjejeran.
Paguyuban
Perjaka sudah berjalan selama kurang lebih dua tahun. Diharapkan dengan adanya
paguyuban yang mengorganisir para pedagang kaki lima, maka kepentingan para
pedagang akan lebih terakomodir dan tidak ada yang namanya ribut-ribut karena
saling berebut konsumen. Sebagai salah seorang anggota paguyuban, ia sadar
bahwa harus tetap menghormati dan menghargai pedagang kaki lima lainnya.
Kesulitan
Ekonomi
Semakin mahalnya
berbagai macam kebuthan pokok turut pula dirasakan oleh Pak Hadi sebagai pelaku
usaha mikro kecil menengah. Walaupun tak sepenuhnya berdampak langsung, namun
ia mengaku harus bekerja ekstra keras jika ingin memperoleh keuntungan lebih
dalam berjualan. Apalagi biaya pendidikan juga semakin mahal.
Dua anaknya yang
kini duduk di bangku Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak makin hari makan lama
makin banyak ia harus mengeluarkan uang untuk membiayainya. Namun demi
pendidikan anak-anaknya ia rela mengeluarkan uang banyak asalkan anaknya bisa
memperoleh pendidikan sebagaimana mestinya.
Diakuinya, biaya
masuk anaknya yang TK saja sudah mencapai hampir satu juta rupiah. Satu juta
itu sudah termasuk seragam serta sumbangan berbagai macam kegiatan seperti
drumband dan kesenian. Belum lagi anaknya yang sudah SD, ditambah les computer,
makin mahal lah biaya yang harus dikeluarkan.
Seringkali ia
mengalami kesulitan untuk membiayai kedua anaknya itu sekaligus. Terutama jika
menjelang akhir semester atau awal ajaran baru, biasanya harus mengeluarkan
uang cukup banyak. Tak jarang anaknya telat membayar SPP karena belum ada uang
untuk membayarnya. Jiia sudah begitu, biasanya istrinya yang pergi kesekolah
untuk menemui guru.
Ironisnya,
walaupun anaknya termasuk dari keluarga tidak mampu, tak pernah sekalipun
mendapat bantuan atau beasiswa. Padahal menurutnya, anaknya sangat pantas
menerima beasiswa. Keringanan biaya SPP juga tak pernah diterima, padahal sudah
pernah meminta. Untuk itulah ia berharap agar pihak sekolah berbaik hati memberi
keringanan biaya pendidikan pada anaknya.
Sejak harga BBM
naik, beliau merasa makin susah mencari nafkah. Karena apa-apa ikut-ikutan
mahal. Ia juga semakin susah memperoleh keuntungan. Harga bahan-bahan jualannya
juga turut melambung tinggi seperti pisang, minyak goreng, dan beras. Untung
saja saat ini harga BBM sudah mulai normal kembali.
Yang paling
dirasakan mahalnya ialah harga minyak tanah. Karena dulu ia menggunakan minyak
sebagai bahan bakar utama. Harganya yang mahal dan semakin susahnya minyak
tanah ditemukan menjadi masalah besar baginya. Karena tanpa minyak tanah ia tak
bisa berjualan.
Untung saja
setelah itu ada program konversi minyak tanah ke gas yang dibagikan secara
gratis oleh pemerintah. Sebagai pelaku usaha, pak Hadi tentu saja menerimanya.
Namun ketika dicoba di gerobaknya, ukuran kompor tidak muat sehingga terpaksa
dianggurkannya. Baru beberapa bulan ini ia membeli sendiri kompor gas yang
ukuranya sesuai dengan gerobaknya.
Berbagai
kesulitan yang dihadapi oleh seorang pedagang kecil seperti Pak hadi nampaknya
perlu ditanggapi serius oleh pemerintah. Meski begitu Pak Hadi tak pernah putus
asa menghadapi semua itu. Menurutnya, dalam hidup harus terus berusaha dan
tidak boleh menghindari kesulitan, tapi harus menghadapinya.
Di luar sana masih banyak Pak Hadi Pak Hadi lainnya yang juga merasakan kesulitan yang
sama. Disaat kita nampaknya lebih suka berfoya-foya, masih ada saudara kita yang menderita.
Dari mereka, tampaknya kita bisa belajar untuk apa sebenarnya kita hidup. Peduli,
saling menolong, kerja keras, dan usaha tanpa putus asa jadi PeEr bagi kita yang nampaknya selalu
“menutup mata”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar